Kamis, 07 Juli 2011

Cara Cek Rekening Listrik

Dengan adanya kemajuan jaman maka tehnologi pun maju dengan pesat sehingga apa yang kita cari seolah-olah ada didepan mata.Untuk mengetahui listrik yang anda gunakan silakan klik Disini PLN

Kamis, 26 Mei 2011

Minggu, 15 Mei 2011

Cara Memasang FLAG visitors blogger


Buat para para blogger baru seperti ane, pasti suka membuat tampilan widget pda blog kita macem-macem?
salam satunya mungkin nambah last visitor or mungkin nampilin pengunjung kita berasal dari negara mana aja? kan gak mungkin tu kita terus memantau secara terus menerus blog kita...api tenang aja ada widget bagus kok buat pencatet negara-negara visitor kita.
Namanya FLAG COUNTER widget ini akan meng-update dar mana aja para tamu kita...:D
cara memasang ke dalam blog kita yaitu:

    Senin, 09 Mei 2011

    Bermulanya Minahasa dikenal di Peta Dunia

    http://matanews.com/wp-content/uploads/Lambang_Kabupaten_Minahasa.jpegSimon Kos, seorang Belanda, pejabat VOC di Ternate pada tahun 1630 memasuki tanah Minahasa dibawah pengaruh Spanyol. Kos melaporkan hasil perjalanannya kepada Batavia yang waktu itu menjadi pusat pemerintahan dibawah kekuasaan persekutuan dagang, ‘Verenigde Oost-Indiesche Compagnie.” Kos melaporkan bahwa Sulawesi Utara cukup potensial, baik lahan maupun posisi letaknya strategis sebagai jalur lintas rempah-rempah dari perairan Maluku menuju Asia-Timur. Lagi pula jalur lintas niaga laut lebih tenang bagi pelayaran kapal-kapal kayu dibanding melalui Laut Cina Selatan. Kos melaporkan bahwa kehadiran Spanyol di Laut Sulawesi hingga perairan Maluku Utara merupakan ancaman bagi kepentingan niaga VOC bila ingin menguasai gudang rempah-rempah kepulauan Maluku.
    Laporan Simon Kos mendapat perhatian dari Jan Pieter Zoon Coen, Gubernur-Jendral VOC di Batavia yang ingin mengusir Spanyol dari kepulauan Maluku Utara guna melakukan monopoli. Usaha perluasan pengaruh di Laut Sulawesi memperoleh peluang bagi VOC terjadi disaat penduduk Minahasa berjuang menghadapi kolonialisme Spanyol. Minahasa mengalami rawan sosial, dan wanita setempat menjadi korban pemerkosaan dari para musafir Spanyol.
    Masa itu VOC memperoleh dukungan dari pemerintahannya yang dilanda trauma kolonialisme Spanyol di Eropa Utara, termasuk Belanda. Invasi itu menyebabkan Belanda perang kemerdekaan di pertengahan abad ke-16 yang mashur dengan sebutan Perang 80 tahun. Spanyol kalah, dan kekalahannya berlanjut hingga Asia-Timur dan Asia-Tenggara serta kawasan Pasifik Barat-Daya. Selain dengan Spanyol, Belanda juga memusuhi Portugis yang juga menjadi saingannya dalam usaha perluasan koloni. Yang terakhir ini juga berlomba adu pengaruh dengan Spanyol memperebutkan gudang produksi rempah-rempah di Maluku sebelum pembentukan pemerintahan gabungan Portugis-Spanyol pada 1580.

    Menado Dalam Peta Dunia

    Pengenalan tanah Minahasa oleh bangsa-bangsa Barat diawali dengan kedatangan musafir Spanyol pada 1532. Bermula sejak bandar Malaka didatangi kapal-kapal Portugis pimpinan D'Abulquergue pada 1511 membuka jalur laut menuju gugusan kepulauan Maluku. Jalur ini kemudian baru dimapankan pada 1521. Sebelumnya kapal-kapal Spanyol pimpinan Ferdinand Magelhaens merintis pelayaran dalam usaha tujuan serupa yang dilakukan Portugis. Bedanya jalur ini dilakukan dari ujung benua Amerika-Selatan melintasi samudera Pasifik dan mendarat di kepulauan Sangir Talaud di laut Sulawesi.
    Sebelum menguasai kepulauan Filipina pada 1543, Spanyol menjadikan pulau Manado Tua sebagai tempat persinggahan untuk memperoleh air tawar. Dari pulau tersebut kapal-kapal Spanyol memasuki daratan Sulawesi-Utara melalui sungai Tondano.
    Hubungan musafir Spanyol dengan penduduk pedalaman terjalin melalui barter ekonomi bermula di Uwuran (sekarang kota Amurang) ditepi sungai Rano I Apo. Perdagangan barter berupa beras, damar, madu dan hasil hutan lainnya dengan ikan dan garam.

    Pahlawan Minahasa

    http://clubmanado.com/home/files/attach/images/2778/838/004/sam-ratulangi.jpgGerungan Saul Samuel Yacob Ratulangi yang lebih dikenal dengan nama Sam Ratulangi lahir pada 5 November 1890 di Tondano, Sulawesi Utara. Setelah menamatkan Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano, ia
    DR. G. SS. Y. Ratulangi
    (1890-1949)
    meneruskan pelajarannya ke sekolah tehnik (KWS) di Jakarta.
    Pada tahun 1915 ia berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah Menengah dari negeri Belanda dan empat tahun kemudian memperoleh gelar dokter Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Swiss. Di negeri Belanda ia menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia dan di Swiss menjadi Ketua Organisasi Pelajar-pelajar Asia.
    Awal Agustus 1945 Ratulangi diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Setelah RI terbentuk, ia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi yang pertama. Ia ditangkap Belanda dan dibuang ke Serui, Irian Jaya.
    Pada 30 Juni 1949, Sam Ratulangi meninggal dunia di Jakarta dalam kedudukan sebagai tawanan musuh (Belanda). Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tondano.

    Minggu, 08 Mei 2011

    Toarlumimuut legenda Minahasa

    http://farm2.static.flickr.com/1344/1074477480_800b8ea2f3.jpgLegenda Anak Mengawini Ibu Kandungnya.

    Dahulu kala, di pantai barat Pengunungan Wulur Mahatus terdapat sebuah batu karang yang bagus bentuknya. Batu karang itu tidak dihiraukan orang karena memang belum ada manusia di sekitarnya. Hanya binatang-binatang yang berkeliaran, saling terkam, saling cakar dan saling bunuh.

    Pada suatu ketika dimusim kemarau, cahaya matahari begitu menyengat sehingga batu karang itu mengeluarkan keringat. Pada saat itu pula, terciptalah seorang wanita yang cantik. Namanya Karema, tapi wanita cantik ini sendirian. Berhari-hari Karema berjalan mengelilingi hutan sekitar Wulur Mahatus. “Kamu tidak diinginkan di tempat ini!”seekor ular tiba-tiba menghardik Karema dan mengusirnya pergi. Konon hewan di sekitar pegunungan tersebut dapat berbicara.

    Dalam hatinya Karema bersedih, ia merasa sendirian dan kesepian. Karema tidak tahan lagi dengan kesendiriannya ia lalu berdiri sambil menadahkan tangan ke langit dan berdoa, “O, Kasuruan Opo e wailan wangko.” Artinya “Oh Tuhan yang maha besar, jika Kau berkenan, nyatakanlah di mana aku berada serta berikanlah teman hidup untukku”.

    Sabtu, 07 Mei 2011

    Sejarah Motoling dan Batu Kumapey

    http://data.febinfo.org/images/map_Motoling_localcov.gif latar belakang kata KUMAPEI ini : makna kata nya adalah bahasa “Isyarat” kalau jauh bisa berarti Mari di sini kalau dekat berarti Mari Mendekat dengan gerakan tangan Meng-Kapei
    ( Kata asal dari Ku mapei ) .Jadi kata ini tidak bisa di terjemahkan panggil dalam bahasa daerah
    Kata panggil = Towa - Memanggil Tumowa . Dua kata ini punya makna budaya masah lalu , saya harus jelaskan sebagai berikut !
    Orang-orang tua menceritakan kepada saya tentang permulaan pada Tonaas mendirikan desa motoling :
    Motoling terambil dari kata  Ma dan Toling.
    Ma artinya Bekas tempat dan Toling adalah nama seorang pemimpin  pasukan orang Mongondow
    Sekarang tempat itu di sebut Mawale . Dimawale itu di buatlah satu tempat pertapaan para tonaas yang di tanam sebuah batu yang di sebut Batu Tumotowa (Batu Pemanggil ) dan di sebelah barat kira-kira 700 m di tanam sebuah batu (di sebut Batu Kumapei) tempat itu sekarang ada di pinggiran sebalah selatan desa Motoling Dua.