Minggu, 08 Mei 2011

Toarlumimuut legenda Minahasa

http://farm2.static.flickr.com/1344/1074477480_800b8ea2f3.jpgLegenda Anak Mengawini Ibu Kandungnya.

Dahulu kala, di pantai barat Pengunungan Wulur Mahatus terdapat sebuah batu karang yang bagus bentuknya. Batu karang itu tidak dihiraukan orang karena memang belum ada manusia di sekitarnya. Hanya binatang-binatang yang berkeliaran, saling terkam, saling cakar dan saling bunuh.

Pada suatu ketika dimusim kemarau, cahaya matahari begitu menyengat sehingga batu karang itu mengeluarkan keringat. Pada saat itu pula, terciptalah seorang wanita yang cantik. Namanya Karema, tapi wanita cantik ini sendirian. Berhari-hari Karema berjalan mengelilingi hutan sekitar Wulur Mahatus. “Kamu tidak diinginkan di tempat ini!”seekor ular tiba-tiba menghardik Karema dan mengusirnya pergi. Konon hewan di sekitar pegunungan tersebut dapat berbicara.

Dalam hatinya Karema bersedih, ia merasa sendirian dan kesepian. Karema tidak tahan lagi dengan kesendiriannya ia lalu berdiri sambil menadahkan tangan ke langit dan berdoa, “O, Kasuruan Opo e wailan wangko.” Artinya “Oh Tuhan yang maha besar, jika Kau berkenan, nyatakanlah di mana aku berada serta berikanlah teman hidup untukku”.

Setelah selesai mengucapkan doa, batu karang itupun terbelah menjadi dua dan muncullah seorang puteri cantik. Karema pun akhirnya tidak sendiri lagi. Ia telah mendapat teman untuk bersama-sama hidup di tempat asing dan liar itu. Lalu Karema berkata kepada wanita itu, “Karena kau tercipta dari batu yang  berkeringat, engkau kuberi nama Lumimuut. Keturunanmu akan hidup sepanjang masa dan bertambah seperti pasir di pantai. Akan tetapi, kamu harus bekerja keras memeras keringat”.

Pada suatu hari, Karema menyuruh putrinya yang cantik molek itu menghadap ke selatan agar ia hamil dan memberikan keturunan. Lumimuut pun melaksanakan perintah ibunya, tetapi tidak terjadi suatu apapun. Karena ke arah selatan tidak berhasil, Lumimuut disuruh mengadap ke arah timur, barat, dan utara. Hal inipun didak membawa hasil. Kemudian upacara diadakan lagi. Lumimuut disuruh menghadap kearah barat yang sedang berembus angin kencang. Lama-kelamaan, setelah upacara selesai, badan Lumimuut menjadi lain. Ternyata Lumimuut sudah hamil.

Selama hamil, Lumimuut selalu dijaga dan dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Karema. Ketika saatnya tiba, Lumimuut pun melahirkan anak laki laki yang diberi nama Toar. Toar adalah anak yang baik, ia diberi pengetahuan dan kemampuan seperti yang dimiliki Karema.

Pertumbuhan badan Toar sangat cepat. Bentuk tubuhnya besar, kuat, kekar, dan perkasa. Di belantara hutan, Toar tidak takut dan tidak dapat ditaklukkan oleh anoa, babi rusa, maupun ular. Ia bahkan di kenal sebagai raja hutan karena semua binatang bisa ditaklukkannya.

Setelah Toar dewasa, berkatalah Karema kepada Toar dan Lumimuut, ”Sekarang sudah saatnya kalian berdua mengembara mengelilingi dunia. Aku sudah menyediakan dua tongkat sama panjang. Tongkat untuk Toar terbuat dari pohon tuis dan tongkat untuk Lumimuut terbuat dari pohon tawaang. Kalau nanti dalam pengembaraan, kalian bertemu dengan seseorang baik pria maupun wanita membawa tongkat seperti ini, bandingkanlah dengan tongkat kalian. Kalau tongkat kalian sama panjang, berarti kalian masih terikat keluarga. Akan tetapi, bila tongkat itu berbeda dan tidak lagi sama panjang, kalian boleh membentuk rumah tangga. Semoga hal ini terjadi dan kalian akan menghasilkan keturunan. Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.”

Nuwu (amanat) Karema menjadi bekal bagi Lumimuut dan Toar dalam pengembaraan mereka. Gunung dan bukit mereka daki. Lembah dan ngarai mereka lalui. Toar pergi ke arah utara dan Lumimuut ke arah selatan. Tuis di tangan Toar bertambah panjang, tetapi tawaang di tangan Lumimuut tetap seperti biasa,

Beberapa tahun kemudian pada suatu malam bulan purnama, di tengah kilauan sinar bulan, bertemulah Toar dengan Lumimuut. Sesuai amanat Karema, merekapun membandingkan tongkat masing masing. Ternyata, tongkat mereka tidak sama panjang lagi sehingga upacara pernikahan pun dilaksanakan. Bintang dan bulan sebagai saksi. Puncak gunung tempat pelaksanaan upacara tampak bagaikan bola emas. Gunung itu kemudian dinamakan Gunung Lolombulan. Akhirnya si Toar kawin dengan ibu kandungnya sendiri Lumimuut.

Setelah upacara pernikahan, mereka pun mencari Karema. Akan tetapi, ia tidak ditemukan. Kemudian, mereka menetap di daerah pegunungan yang banyak ditumbuhi buluh tui (sejenis bambu kecil). Disanalah mereka beranak cucu. Keturunan demi keturunan, kembar sembilan (semakarua siyouw), dua kali sembilan. Kelahiran keturunan mereka itu selalu disambut bunyi siul burung wala(doyot) yang dipercaya sebagai pertanda memperoleh limpah dan berkat karunia. Lahirlah legenda Toar Lumimuut sebagai cikal bakal Bangsa Minahasa.
** Toar dan Lumimuut akhirnya menetap di Watuniutakan (dekat Tompaso Baru sekarang dan dengan kehidupan pertanian yang sarat dengan usaha bersama dengan saudara sekeluarga/ taranak itu terlihat dari berbagai versi tarian Maengket.) Sampai pada suatu saat keluarga mereka bertambah jumlahnya maka perlulah diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut.  Dan akhirnya melalui kebiasaan peraturan dalam keturunannya, kelak dikemudian hari menjadi kebudayaan Minahasa.
** Dalam musyawarah yang dihadiri oleh seluruh keturunan Toar dan Lumimuut, memilihTonaas Kopero dari Tompakewa sebagai ketua yang dibantu anggota Tonaas Muntuuntu dari Tombulu dan Tonaas Mandey dari Tonsea. Mereka bertugas untuk ber- konsolidasi dengan semua golongan di Minahasa.

Kesimpulan:

Cerita ini dapat digolongkan pada legenda. Banyak penduduk Minahasa menganggap cerita ini sebagai suatu kebenaran walaupun untuk membuktikan kebenarannya hampir tidak mungkin. Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah hendaknya kita ingat petuah orang tua. Selain itu, walaupun kita wanita cantik atau pemuda perkasa, hendaklah kita selalu bekerja keras agar dapat hidup layak. Berkelanalah sampai ke ujung bumi!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar